إعانة الطالبين ) ج 1 / ص 194)
( و ) كره ( صلاة بمدافعة حدث ) كبول وغائط وريح للخبر الآتي ولأنها تخل بالخشوع
dan dimakruhkan sholat dengan keadaan menahan hadats, seperti air kencing, tinja dan kentut berdasarkan hadits yang akan datang, dan juga hal tersebut bisa mengganggu kekhusyuan
بل قال جمع إن ذهب بها بطلت
Bahkan ada segolongan ulama menyatakan ; Jika kekhusyuannya hilang sebab menahan hadats, maka sholatnya batal
ويسن له تفريغ نفسه قبل الصلاة وإن فاتت الجماعة
Dan disunahkan baginya (musholli) untuk mengosongkan (menuntaskan) dirinya (dari hadats) sebelum menunaikan sholat, meskipun akan ketinggalan sholat berjamaah
وليس له الخروج من الفرض إذا طرأت له فيه ولا تأخيره إذا ضاق وقته
Dan ia tidak diperbolakan keluar dari dari sholat fardlunya (membatalkan sholatnya) ketika hadatsnya muncul pada dirinya disaat tengah menjalankan sholat fardlu. Dan juga (tidak boleh) mengakhirkan sholat fardlu jika waktunya sudah mepet
والعبرة في كراهة ذلك بوجودها عند التحرم
Acuan kemakruhan tersebut adalah wujudnya penahanan hadats disaat takbirotul ihrom
وينبغي أن يلحق به ما لو عرضت له قبل التحرم فزالت وعلم من عادته أنها تعود إليه في الصلاة
Sebaiknya untuk disamakan dengan hal tersebut adalah permasalahan jikalau hadatsnya muncul sebelum ia takbirotul ihrom, kemudian hilang, dan ia yakin dilihat dari kebiasaannya bahwasanya hadats tersebut akan muncul lagi ditengah-tengah sholatnya
.......
( قوله بل قال جمع إلخ ) عبارة المغني ونقل عن القاضي حسين أنه قال إذا انتهى به مدافعة الأخبثين إلى أن يذهب خشوعه لم تصح صلاته اه
(Ungkapan mushonnif “ Bahkan ada segolongan ulama “ dst) redaksinya kitab Al Mughniy “ Dinukil dari Al Qodli Husain, bahwasanya beliau menyatakan ; ketika penahanan dua perkara menjijikkan (kencing dan tinja) ini mencapai taraf bisa menghilangkan kekhusyuannya, maka sholatnya tidak dihukumi sah. Sekian pernyataan beliau
Diterangkan dalm kiatb Nihayatul Muhtaj, Karya Al-Imam Ar Romly:
وَالْأَوْجَهُ أَنَّهُ لَوْ حَدَثَ لَهُ الْحَقْنُ فِي صَلَاتِهِ حَرُمَ عَلَيْهِ قَطْعُهَا إنْ كَانَ فَرْضًا إلَّا إنْ اشْتَدَّ الْحَالُ وَخَافَ ضَرَرًا
Menurut Qaul yang lebih Unggul, Apabila penahanan terhadap hadast baru terjadi setelah ia masuk dalam sholat, maka haram baginya untuk memutus/membatalkan sholatnya (apabila sholat fardhu) kecuali keadaan tersebut (menahan kentut) di kwatirkan membahayakan dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar